...waktu selalu berbicara tanpa pernah berkata dan segala sesuatunya selalu membuat kita terpana bahkan menganga, karena apa yang kita duga, kadang sama sekali berbeda
…waktu pula yang mengajarkan kita banyak hal, kesempatan tuk melihat seberapa bijak kita bercermin di dalamnya… sosok apa yang kita temui disana…dan seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menyadari jika ternyata ada sesuatu yang salah disana?
…sepertinya kita hanya bisa berdiam diri saja saat menemukan kesalahan, menunda kesalahan itu berkembang atas nama pembelaan diri –yang menyatakan bahwa segalanya hanya tuntutan serangkaian keinginan tuk berbagi bukan sekedar menikmati- dan tak pernah berhenti bertanya, menghendaki jawaban yang sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri… tapi apa yg kita temui selain rasa kecewa? kita cenderung untuk meragukan-Nya, daya cipta yang kita anggap salah dan nyaris membenci-Nya
…telah banyak waktu yang kita buang hanya untuk mencari-cari kesalahan-Nya? separuh hidup kita? Sepertinya lebih dari itu… sebaliknya sesuatu yang kita anggap anugrah, malah seringkali kita gunakan untuk sesuatu yang salah… konsep hidup yang kita putar balikkan adalah jerih payah dari kecakapan dan kecerdasan yang kita miliki, memutar arah untuk mendapatkan jalan yang lebih mudah sepertinya menjadi satu-satunya pilihan daripada harus menyusuri jalan lurus yang tlah Ia ciptakan tuk menguji kemuliaan hidup kita, terlebih kiat menghadapi kesulitan dengan menyerah sebelum berjuang sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan lagi…
…sampai kapan kita berdiri dengan harapan yang tak pernah kita perjuangkan? Jangankan untuk menghapus jejak di belakang, untuk sekedar melangkah, mencari perlindungan saja sepertinya berat, kita hanya membiarkan semuanya -tanpa perlawanan-terjadi, sedikit menyesali, yang selanjutnya menginginkan semuanya terulang kembali untuk disesali lagi…
…saat tertatih dan ingin mengembalikan semua pada posisi semula, kita terlalu letih untuk memulai perjalanan baru, terpuruk pada sesuatu yang terlanjur mengendap dan -meski ragu- cukup meyakini bahwa waktu masih jauh berakhir, meyakini bahwa suatu hari -sebelum kita mati- kita bisa kembali menelusuri jalan lurus yang diridoi…
…tapi aku terhenyak, sekejap kusadari-saat otakku terasa tertancap di kedalaman bumi-
akankah ku tahu, kapan waktuku berakhir?
1 Comments:
you are what you are. and whatever what you are is ok.
Dear Dahlia,
sometimes it will easy to let everything go on, sometime we must be what we must be.
[x2nie] sok teu...
he he.., just comment.
Pastikan saja langkahmu di jalanNya (kata orang) yup. slam knal!
Salam!
Post a Comment
<< Home