Thursday, September 28, 2006

[a]da beberapa hal yang dengan sendirinya berkembang dan sulit untuk dimaafkan, meski tahu ini bukan salah siapa-siapa dan tak ada yang perlu disalahkan... tapi jauh didasar hati ada sesuatu yang mengendap, sulit untuk diabaikan begitu saja, terlebih saat melibatkan diri pada dialog antara kebenaran hitam diatas putih dan pembelaan diri yang menyulut begitu saja...

... seolah kebenaran adalah sumbu yang berbalur bahan bakar dan egoku tentulah api yang berontak mengatasnamakan pembelaan...

[d]emikianlah HIDUP

berceritalah sang pawana kepada alam...
tentang awan yang ia bawa
ada dalam sebuah perjanjian
tentang dahan yang menggugurkan dedaunan
adalah sebentuk kemuliaan
serta tentang kelahiran dan kematian
mutlak tertulis dan menjadi hak setiap insan

...aku mengiba tentang sebuah keagungan
yang menjadi pertanyaan...
sebatang dahan melahirkan dedaunan
mengapa harus ada
...jika hanya tertimpa lara?
mengapa harus ada
...jika hanya mengisyaratkan prahara
mengapa harus ada
...jika akhirnya ia harus tiada?

Wednesday, August 02, 2006

[s]elayaknya kau sadari...
sedari dulu...
bahwa tak ada lagi sesuatu yang mewujud
selain rasa sayang...

aku peduli...

mengetahui banyak tentangmu...

memiliki hatimu...

dan selalu berusaha mengikuti alurmu

tapi jika kesabaranku adalah garis
yang membatasi luasnya jagad hati
semata-mata adalah keterbatasanku
sebagai insan...
semua pribadi memilikinya

saat ini...
aku lebih memilih diam
pura-pura tak peduli dengan jalinan ini
biarlah kau yang menentukan...
melanjutkan kebersamaan ini
demi sejarah yang pernah kita miliki
ataukah berhenti sama sekali
karena kau tahu apa yang terbaik
untuk kita jalani...

Tuesday, March 14, 2006

[m]emprediksi saja tak kan pernah cukup...

apalagi hanya sekedar bermimpi

luangkan waktu... abaikan ragu

tuk melempar lebih dari satu dadu...

bukankah semakin banyak usaha

semakin banyak juga peluang?

meski tahu selalu ada rintangan

tapi itulah hidup...

Wednesday, February 22, 2006

[a]ku tahu saat kau bertindak sebanyak yang kau mau
justru kau memperlihatkan wujud aslimu...

SEEKOR AMPHIBI BERKEPALA KELEDAI...hah!!!

dan kau cukup bangga memperlihatkan itu padaku
saat ini kau iri atas segala yang bisa kuraih kan?
kau iri terhadap sahabat & kekasih hati yang setia kumiliki kan?
apakah kau cukup menarik dengan segala kecuranganmu itu...?
hanya orang bodoh yang mau menjadi sahabatmu
dan hanya segelintir mahluk dari bangsamu yang mau berdekatan denganmu
itupun hanya sementara...
setelah mereka sadar akhirnya mereka lebih memilih pergi darimu...

;-p

Wednesday, February 01, 2006

[w]aktu selalu berbicara tanpa pernah berkata

...waktu selalu berbicara tanpa pernah berkata dan segala sesuatunya selalu membuat kita terpana bahkan menganga, karena apa yang kita duga, kadang sama sekali berbeda

…waktu pula yang mengajarkan kita banyak hal, kesempatan tuk melihat seberapa bijak kita bercermin di dalamnya… sosok apa yang kita temui disana…dan seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menyadari jika ternyata ada sesuatu yang salah disana?

…sepertinya kita hanya bisa berdiam diri saja saat menemukan kesalahan, menunda kesalahan itu berkembang atas nama pembelaan diri –yang menyatakan bahwa segalanya hanya tuntutan serangkaian keinginan tuk berbagi bukan sekedar menikmati- dan tak pernah berhenti bertanya, menghendaki jawaban yang sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri… tapi apa yg kita temui selain rasa kecewa? kita cenderung untuk meragukan-Nya, daya cipta yang kita anggap salah dan nyaris membenci-Nya

…telah banyak waktu yang kita buang hanya untuk mencari-cari kesalahan-Nya? separuh hidup kita? Sepertinya lebih dari itu… sebaliknya sesuatu yang kita anggap anugrah, malah seringkali kita gunakan untuk sesuatu yang salah… konsep hidup yang kita putar balikkan adalah jerih payah dari kecakapan dan kecerdasan yang kita miliki, memutar arah untuk mendapatkan jalan yang lebih mudah sepertinya menjadi satu-satunya pilihan daripada harus menyusuri jalan lurus yang tlah Ia ciptakan tuk menguji kemuliaan hidup kita, terlebih kiat menghadapi kesulitan dengan menyerah sebelum berjuang sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan lagi…

…sampai kapan kita berdiri dengan harapan yang tak pernah kita perjuangkan? Jangankan untuk menghapus jejak di belakang, untuk sekedar melangkah, mencari perlindungan saja sepertinya berat, kita hanya membiarkan semuanya -tanpa perlawanan-terjadi, sedikit menyesali, yang selanjutnya menginginkan semuanya terulang kembali untuk disesali lagi…

…saat tertatih dan ingin mengembalikan semua pada posisi semula, kita terlalu letih untuk memulai perjalanan baru, terpuruk pada sesuatu yang terlanjur mengendap dan -meski ragu- cukup meyakini bahwa waktu masih jauh berakhir, meyakini bahwa suatu hari -sebelum kita mati- kita bisa kembali menelusuri jalan lurus yang diridoi…

…tapi aku terhenyak, sekejap kusadari-saat otakku terasa tertancap di kedalaman bumi-

akankah ku tahu, kapan waktuku berakhir?

Friday, January 13, 2006

[m]engapa hati selalu meratap saat ku harus memutuskan sesuatu...?
tidak ikhlaskah atau karena ego selalu berkata lain?
aku menunggu keputusan itu terurai dari hatimu,
bukan aku yg melakukannya...

tapi..

demi waktu yang bijak dan terus bergulir
akhirnya akulah yang harus menentukan...

cinta...

legakah kau dengan keputusanku ini?

legakah kau saat ku berkali-kali bersuara?

meski parau dan hampir tak terdengar?

harusnya kau yang coba berucap...
jika keputusanku ini tak kau anggap bijak
adalah kebijakan waktu yang layak berucap

Monday, January 02, 2006

...rumit menyatukan beberapa harapan yang berbeda,
pendapat yang kadang sesat dikedalaman bahasan...
sarat akan alasan...

tapi apapun itu...

saat ini...

aku merasa nyaman dengan kedekatan ini

ingin memelukmu, seperti inginku menyayangimu...
dengan caraku...