... seolah kebenaran adalah sumbu yang berbalur bahan bakar dan egoku tentulah api yang berontak mengatasnamakan pembelaan...
"Hati hendak melukis apa? sepertinya malas... tapi ada sesuatu terlintas, yang harus dibahas..."
berceritalah sang pawana kepada alam...
tentang awan yang ia bawa
ada dalam sebuah perjanjian
tentang dahan yang menggugurkan dedaunan
adalah sebentuk kemuliaan
serta tentang kelahiran dan kematian
mutlak tertulis dan menjadi hak setiap insan
...aku mengiba tentang sebuah keagungan
yang menjadi pertanyaan...
sebatang dahan melahirkan dedaunan
mengapa harus ada
...jika hanya tertimpa lara?
mengapa harus ada
...jika hanya mengisyaratkan prahara
mengapa harus ada
...jika akhirnya ia harus tiada?
[s]elayaknya kau sadari...
sedari dulu...
bahwa tak ada lagi sesuatu yang mewujud
selain rasa sayang...
aku peduli...
mengetahui banyak tentangmu...
memiliki hatimu...
dan selalu berusaha mengikuti alurmu
tapi jika kesabaranku adalah garis
yang membatasi luasnya jagad hati
semata-mata adalah keterbatasanku
sebagai insan...
semua pribadi memilikinya
saat ini...
aku lebih memilih diam
pura-pura tak peduli dengan jalinan ini
biarlah kau yang menentukan...
melanjutkan kebersamaan ini
demi sejarah yang pernah kita miliki
ataukah berhenti sama sekali
karena kau tahu apa yang terbaik
untuk kita jalani...
[m]emprediksi saja tak kan pernah cukup...
apalagi hanya sekedar bermimpi
luangkan waktu... abaikan ragu
tuk melempar lebih dari satu dadu...
bukankah semakin banyak usaha
semakin banyak juga peluang?
meski tahu selalu ada rintangan
tapi itulah hidup...
[a]ku tahu saat kau bertindak sebanyak yang kau mau
justru kau memperlihatkan wujud aslimu...
SEEKOR AMPHIBI BERKEPALA KELEDAI...hah!!!
dan kau cukup bangga memperlihatkan itu padaku
saat ini kau iri atas segala yang bisa kuraih kan?
kau iri terhadap sahabat & kekasih hati yang setia kumiliki kan?
apakah kau cukup menarik dengan segala kecuranganmu itu...?
hanya orang bodoh yang mau menjadi sahabatmu
dan hanya segelintir mahluk dari bangsamu yang mau berdekatan denganmu
itupun hanya sementara...
setelah mereka sadar akhirnya mereka lebih memilih pergi darimu...
;-p
...waktu selalu berbicara tanpa pernah berkata dan segala sesuatunya selalu membuat kita terpana bahkan menganga, karena apa yang kita duga, kadang sama sekali berbeda
…sampai kapan kita berdiri dengan harapan yang tak pernah kita perjuangkan? Jangankan untuk menghapus jejak di belakang, untuk sekedar melangkah, mencari perlindungan saja sepertinya berat, kita hanya membiarkan semuanya -tanpa perlawanan-terjadi, sedikit menyesali, yang selanjutnya menginginkan semuanya terulang kembali untuk disesali lagi…
akankah ku tahu, kapan waktuku berakhir?
[m]engapa hati selalu meratap saat ku harus memutuskan sesuatu...?
tidak ikhlaskah atau karena ego selalu berkata lain?
aku menunggu keputusan itu terurai dari hatimu,
bukan aku yg melakukannya...
tapi..
demi waktu yang bijak dan terus bergulir
akhirnya akulah yang harus menentukan...
cinta...
legakah kau dengan keputusanku ini?
legakah kau saat ku berkali-kali bersuara?
meski parau dan hampir tak terdengar?
harusnya kau yang coba berucap...
jika keputusanku ini tak kau anggap bijak
adalah kebijakan waktu yang layak berucap